Hindarilah Dari Duduk Iq’a.. Nabi Muhammad SAW Melarang Keras.. Mesti Baca!

Al Lajnah Daimah berkata dalam fatwa Nombor 3985:

Rasulullah Shallallhu ‘Alaihi wa Sallam juga melarang duduk seperti duduknya setan.

Dalam hadits lain dijelaskan bahwa arti dari duduk setan ini ialah duduk seperti duduknya anjing.

Asy- Syaukani berkata, “Maksud hadits ini ditafsirkan oleh Abu `Ubaid dan yang lainnya bahwa cara duduk yang dilarang adalah menempelkan punggung di lantai dan menegakkan betisnya lalu meletakkan tangannya di atas lantai seperti cara duduk anjing.

Ibnu Ruslan berkata dalam buku (Syarah Sunan) bahwa yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah dengan membaringkan kedua kaki dan duduk di atas tumitnya.

An-Nawawi berpendapat bahwa yang benar ialah yang tidak menyamakan duduk.

Duduk iq’a’ ada dua jenis. Salah satunya menempelkan punggung di lantai dan menegakkan betisnya lalu meletakkan tangannya di atas lantai seperti cara duduk anjing. Demikianlah sebagaimana ditafsirkan oleh Abu `Ubaid dan Ma`mar bin al-Mutsanna serta sahabatnya Abu `Ubaid bin al-Qasim bin Salam dan selainnya dari para pakar bahasa.

Cara seperti inilah yang dimakruhkan dan terdapat larangan tentangnya. Cara duduk yang kedua adalah menjadikan punggung berada di atas tumitnya saat duduk di antara dua sujud.

Asy-Syaukani berkata dalam buku “An-Nihayah”, “Pendapat pertama adalah yang paling benar.” Sementara cara duduk yang kedua diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dalam “Shahih Muslim” dan yang lainnya yang berkata, “Sungguh itu adalah sunnah Nabimu, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Dengan ini dapat diketahui bahwa cara duduk yang dilarang adalah dengan menegakkan paha dan betis ketika duduk dan meletakkan kedua tangannya di atas lantai.

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Dan beliau (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) melarang ‘uqbatusy-syaithan, juga melarang seseorang menghamparkan kedua lengannya seperti terhamparnya kaki binatang buas”. [HR Muslim, no. 498].

Duduk iq’â dalam shalat itu ada dua macam : Pertama : iq’â yang terlarang. Yaitu cara duduk seperti binatang buas, kera atau anjing. Cara duduk ini ialah dengan menegakkan kedua betis, menempelkan punggung ke tanah (lantai) dan meletakkan kedua tangan di tanah (lantai). Kedua : iq’a yang boleh. Yaitu meletakkan punggung di atas dua tumit pada waktu duduk di antara dua sujud.

Hal ini disebutkan di dalam beberapa hadits. Sikap Duduk Yang Terlarang dalam Shalat 1. Duduk iq’a seperti duduknya anjing Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, نَهَانِي خَلِيلِي عَنْ أَنْ أُقْعِيَ إِقْعَاءَ السَّبُعِ Kekasihku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) melarangku untuk duduk iq’a sebagaimana cara duduk iq’a binatang buas.

(HR. Abu Ya’la dalam Al-Musnad). Abu Ubaidah dan ulama lainnya mengatakan, posisi duduk iq’a seperti binatang adalah duduk jongkok, sementara punggung diletakkan di tanah dan kedua tangan diletakkan di samping. (Syarh Shahih Muslim An-Nawawi, 5/19). 2. Duduk seperti cara duduknya setan A’isyah radhiyallahu ‘anha menceritakan cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, كَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى، وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ الشَّيْطَانِ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan duduk iftirasy, dan baginda melarang duduk seperti cara duduk setan. (HR. Bukhari dan Muslim)

Sumber : http://www.atsar.id

Add Comment